Dewan Sumber Daya Air Nasional
Mari Wariskan Mata Air Pada Anak Cucu Kita, Jangan Air Mata

Kondisi Gunung Agung, Terkini

DSDAN | Mon, 10/30/2017 - 14:48
Kondisi Gunung Agung

Status gunung Agung saat ini sudah memasuki level awas, namun hingga saat ini belum dapat diprediksi kapan gunung akan meletus karena aktivitasnya yang turun naik. Ketidakpastian terkait letusan Gunung Agung dikarenakan kurangnya erupsi letusan gunung, sedangkan data letusan yang terjadi pada 1963 pun tidak terlalu lengkap.

Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang terus memantau aktivitas Gunung Agung, mereka telah membuat beberapa analisis mengenai perkembangan terkini Gunung Agung. Analisis pertama, probabilitas terjadinya letusan masih tetap tinggi dibandingkan probabilitas batalnya letusan. Kedua, jika terjadi letusan maka akan diawali dengan letusan kecil terlebih dahulu. Setelahnya, letusan besar akan terjadi. Namun, PVMBG akan mengeluarkan peringatan jika suatu saat kondisi berubah berdasarkan pantauan kecenderungan jika terjadi letusan.

Berdasarkan sejarahnya, jika terjadi letusan Gunung Agung seperti pada tahun 1963, maka potensi bahaya yang mungkin terjadi dapat berupa lontaran piroklastik (bom vulkanik/batu panas), hujan abu, aliran piroklastika, aliran lava, hingga banjir lahar.

Maka dari itu, salah satu upaya mengantisipasi dampak diatas, pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida membangun tanggul dan normalisasi disepanjang aliran sungai Tukad guna mengantisipasi terjangan lahar dingin, serta mengamankan DAS Tukad Unda jika sewaktu-waktu gunung Agung Meletus. Pembuatan tanggul sudah mulai dilakukan kurang lebih empat hari, sejak mendapatkan instruksi langsung dari Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, terkait tanggap darurat bencana gunung Agung.

Seperti yang disampaikan pihak BWS Bali-Penida, bahwa pusat yang menjadi sasaran yaitu lokasi yang dekat dengan pemukiman warga, salah satunya jembatan penghubung kecamatan Klungkung dan Dawan. Selain melakukan pengerukan juga dilakukan pembangunan tanggul dengan memanfaatkan sedimen pasir dari dasar sungai, dan ditimbun hingga membentuk tanggul setinggi 3 meter. Tanggul ini dibuat sepanjang 350 meter di sisi barat sungai unda, guna menahan terjangan lahar dingin jika gunung Agung mengalami erupsi. Semoga tanggul ini dapat menahan terjangan lahar dingin agar tidak meluber ke sisi barat sungai, karena wilayah itu banyak pemukimannya. Kita berkaca dari letusan 1963 silam, lahar dingin sampai meluber ke barat hingga menghancurkan banyak pemukiman warga.

Sejak selasa (3/10) alat berat sudah diturunkan dan mulai bekerja mengeruk sedimentasi di sebelah utara jembatan sungai unda. Material dari sedimentasi tersebut kemudian dikumpulkan dan digunakan menjadi bahan untuk membuat tanggul. Untuk penanganan diutamakan yang memasuki zona lahar banjir.

Selain itu, Status Gunung Agung yang memasuki level awas ini menimbulkan kekhawatiran seluruh lapisan masyarakat hingga pemerintahan. Seperti yang diungkapkan Bupati Karangasem IG Ayu Mas Sumantri “Kita bersama berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dimana saat ini Kabupaten Karangasem ingin bangkit dan menuntaskan kemiskinan tapi ternyata Gunung Agung mulai aktif,"

Menurut Sumantri 138 ribu dari total 500 ribu jiwa penduduk Karangasem mengungsi karena Gunung Agung semakin aktif. Para pengungsi bahkan ada yang keluar dari Pulau Bali, menuju Banyuwangi dan Lombok. Masalah yang timbul tidak hanya tentang kependudukan saja, tetapi pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Karangasem yang turut terdampak. Sumatri menyatakan PAD Karangasem nyaris tidak ada karena mengandalkan tambang pasir di kaki Gunung Agung. Sementara, dari sektor pariwisata pun masih belum pulih benar walau sebagian besar wilayah kabupaten di sisi timur laut Pulau Dewata itu adalah zona aman. (TIM PI DSDAN).